5 Binatang Endemik dari Kepulauan Solomon

5 Binatang Endemik dari Kepulauan Solomon

5 Binatang Endemik dari Kepulauan Solomon

5 Binatang Endemik dari Kepulauan Solomon – Kepulauan Solomon merupakan salah satu negara yang terletak di sebelah timur Papua Nugini yang terdiri dari enam pulau besar dan lebih dari 900 pulau kecil. Negara berpenduduk lebih dari 600 ribu jiwa tersebut juga memiliki iklim tropis dan tentunya diisi oleh hutan hujan tropis lebat layaknya di negara-negara tropis lainnya. Maka dari itu banyak pula dijumpai berbagai binatang endemik dari kepulauan ini yang tidak dapat ditemui di tempat lain.

Buat kalian yang ingin tahu apa saja mamalia asli dari Kepulauan Solomonm, maka langsung saja simak daftar dan ulasannya berikut ini.

1. Solomon Islands skink

Solomon Island Monkey Tail Skink (Corucia zebrata) – MOC Reptiles

Solomon Islands skink merupakan reptil endemik dari Kepulauan Solomon yang tersebar di beberapa pulau besar di negara tersebut. Reptil ini menjadi spesies skink terbesar yang masih hidup saat ini, di mana ukurannya panjangnya mampu mencapai lebih dari 70 cm. Selain itu binatang ini juga memiliki habitat di area hutan dan biasa berdiam di dahan pohon.

Reptil bernama latin Corucia zebrata ini termasuk herbivora dan memakan berbagai macam buah-buahan, daun, dan bunga dari beberapa macam tanaman. Sayangnya hewan ini juga terancam akibat kerusakan lingkungan dan perburuan untuk dimakan, serta di jadikan binatang peliharaan eksotis. Serta masuk dalam hewan yang hampir terancam menurut IUCN Red List.

2. Bougainville monkey-faced bat

Save the spectacled flying-fox - Australian Geographic

Bougainville monkey-faced bat adalah mamalia endemik dari Kepulauan Solomon yang mendiami pulau Bougainville. Kelelawar ini awalnya ditemukan oleh naturalis asal Inggris, bernama Albert Stewart Meek pada tahun 1904, yang termasuk dalam genus megabat. Habitat alami dari kelelawar ini ada di hutan dan dataran tinggi, serta memiliki ukuran yang besar mencapai panjang 26 cm dan berat 570 gram.

Sedangkan makanan dari kelelawar ini diperkirakan adalah berbagai buah-buahan yang memiliki tekstur keras, dibuktikan dari bentuk giginya. Selain itu status konservasi kelelawar ini masuk dalam kategori endangered menurut IUCN Red List.

3. King rat

King Rat (Uromys rex) · iNaturalist.ca

King rat atau yang memiliki nama ilmiah Uromys rex termasuk mamalia besar yang hanya ditemui di Pulau Guadalcanal, Kepulauan Solomon. Melansir dari laman https://christian-mommies.com/ binatang ini memiliki ukuran yang besar dengan panjang 26 cm, dan berat mencapai 420 gram. Tikus ini cenderung banyak menghabiskan waktu di atas pohon dan memakan berbagai macam buah-buahan, terutama kelapa.

Sama seperti jenis tikus lainnya asal Guadalcanal, yakni Guadalcanal rat dan Emperor rat, mamalia ini juga termasuk langka, yang masuk kriteria endangered menurut IUCN Red List.

4. Temotu flying fox

Sulawesi flying fox - Wikipedia

Berikutnya terdapat Temotu flying fox yang termasuk kelelawar asal Kepulauan Solomon yang masuk dalam keluarga Pteropodidae. Ukuran dari mamalia ini mampu mencapai panjang 18 cm, disertai berat mencapai 280 gram. Sementara makanan utamanya berupa buah-buahan sama seperti jenis flying fox lainnya.

Binatang terbang bernama latin Pteropus nitendiensis ini juga masuk dalam spesies yang dalam bahaya menurut IUCN Red List. Tak hanya itu saja, spesies ini juga masuk dalam 35 kelelawar yang mendapatkan penanganan khusus berdasarkan Bat Conservation International.

5. Vanikoro flying fox

Vanikoro flying fox (Pteropus tuberculatus) - Google Search | Fox, Flying

Terakhir ada Vanikoro flying fox yang masuk dalam family Pteropodidae yang endemik dari Kepulauan Vanikoro, Kepulauan Solomon. Fauna ini sebelumnya sempat dianggap punah pada tahun 1990an setelah tidak ditemukan, tapi kemudian ditemukan kembali pada tahun 2014, dengan populasi mencapai ratusan hingga ribuan. Makanan utama kelelawar ini berupa bunga kelapa, nektar kelapa dan bunga palm.

Ancaman utama dari kelelawar ini berupa kerusakan lingkungan dan dianggap sebagai hama, karena memakan buah-buahan. Sedangkan status konservasinya masuk dalam critically endangered berdasarkan IUCN Red List.