Gus Yahya: Saatnya Indonesia Hubungan dengan Israel

Gus Yahya: Saatnya Indonesia Hubungan dengan Israel

Gus Yahya: Saatnya Indonesia Hubungan dengan Israel

Gus Yahya: Saatnya Indonesia Hubungan dengan Israel, – Mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid, Yahya Chalil Tsaquf, menyampaikan bahwa sudah saatnya Indonesia harus memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Dengan begitu, Indonesia baru bisa terlibat lebih aktif untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina yang tak berkesudahan.

“Supaya bisa menjangkau dua pihak, agar ada kesempatan untuk mengupayakan jalan keluar. Kalau kita tidak punya hubungan diplomatik resmi, Indonesia tidak bisa terlibat banyak dalam upaya damai,” kata Yahya.

Gus Dur pernah berwacana membuka hubungan diplomatik dengan Israel

Wacana untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sempat disuarakan oleh Presiden Gus Dur, sapaan hangat Abdurrahman Wahid. Hanya saja, rencana itu ditentang oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, termasuk penolakan dari kelompok Nahdlatul Ulama (NU).

“Wah ramai waktu itu, banyak yang protes, bahkan banyak yang menuduh Gus Dur Yahudi,” terang sosok yang karib disapa Gus Yahya ini.

Lebih lanjut, kata Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu, hari ini sudah banyak negara yang diam-diam menjalin hubungan diplomatik dengan Israel meski mereka tetap mengecam segala rencana aneksasinya.

Menyampingkan klaim-klaim di masa lalu

Terakhir, untuk menemukan titik tengah pada konflik ini, kedua belah pihak harus menyampingkan klaim-klaim masa lalu. Misalnya, Yahudi selalu mengklaim bahwa Israel merupakan tanah warisan para leluhurnya. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya makam-makam kuno Yahudi.

Sementara, umat Islam merasa memiliki tanah Palestina karena keberadaan Masjid Al-Aqsa yang merupakan kiblat pertama dalam sejarah Islam.

“Ini yang membuat sulit ketemu jalan keluarnya, karena orang mempolitisir agama, mempolitisir sejarah. Kalau bicara soal sejarah, mau ditarik sampai kapan? Sampai zaman apa? Yang harus diperhatikan adalah bagaimana ke depannya hubungan Israel-Palestina ini,” tutup dia.

Melihat konflik Israel-Palestina secara menyeluruh

Menurut Gus Yahya, Indonesia harus bijak dalam menyikapi konflik Israel-Palestina. Sebab, ada dua sudut pandang dalam menyikapi konflik tersebut, yaitu pandangan yang menganggap Israel-Palestina sebagai konflik perbatasan atau konflik agama Islam.

“Kalau ada yang mengatakan itu pure konflik perbatasan, gak sepenuhnya benar. Karena di kalangan Yahudi juga ada artikulasi-artikulasi yang menggunakan dalih agama, yang tidak kondusif bagi perdamaian,” terang dia.

Atas dasar itulah Gus Dur pada 2002 sempat mengatakan untuk mengajak tokoh agama dalam menuntaskan konflik Israel-Palestina.

“Harus jujur dalam melihat masalahnya, jangan seolah-olah tidak mengakui bahwa ada faktor agama dalam hal ini. Makanya Gus Dur pernah bilang tambahkan satu elemen lagi, yaitu agama. Para pemimpin agama harus dilibatkan lebih substansial,” terangnya.