Tak Pernah Terjadi Sebelumnya Dalam Sejarah Manusia

Tak Pernah Terjadi Sebelumnya Dalam Sejarah Manusia

Tak Pernah Terjadi Sebelumnya Dalam Sejarah Manusia

Tak Pernah Terjadi Sebelumnya Dalam Sejarah Manusia – Saat internet pertama kali dibuat, mungkin awalnya tidak ada yang berpikir untuk membuat suatu sistem interaksi sosial di dalamnya, walaupun cepat atau lambat, pasti hal tersebut akan terpikirkan oleh para engineer dan inventor di masa itu.

Aliran informasi yang tak mengenal jarak secara fisik itu berpotensi besar menghubungkan orang-orang yang ada di seluruh dunia dalam suatu model sistem. Media sosial mengubah cara bersosialisasi dalam masyarakat secara signifikan.

Esensi bersosialisasi adalah interaksi antara dua atau lebih orang dengan cara bertemu fisik. Media sosial membongkar cara lama tersebut dan menawarkan konsep baru. Dengan menggunakan teknologi, kita bisa berinteraksi dengan orang lain tanpa ada batasan fisik, jarak, bahkan sering kali, waktu.

Bukan hanya itu, media sosial memungkinkan kita berinteraksi tidak hanya pada inner-circle kita atau orang-orang yang sudah pernah berinteraksi dengan kita di dunia nyata, tapi juga membuka kesempatan untuk “bertemu” orang yang sepenuhnya baru dalam hidup kita.

Apakah mereka menggunakan media sosial?

Ada suatu jurnal menarik yang relevan. Can You See the Real Me? Activation and Expression of the True Self on the Internet ditulis oleh John A. Bargh, Katelyn McKenna. Dan Gráinne M. Fitzsimons, pada tahun 2002. Dan merupakan bagian dari Journal of Social Issue, yaitu kumpulan jurnal yang dibuat SPSSI (Society for the Psychological Study of Social Issues).

Sebuah kelompok yang terdiri dari ribuan ilmuwan dari bidang psikologi. Dan bidang terkait yang meneliti berbagai aspek psikologi dari isu-isu sosial sampai ke kebijakan-kebijakan penting di dalamnya.

Bargh, McKenna, dan Fitzsimons menemukan bahwa introver juga berinteraksi secara online. Mereka menemukan ada 2 dorongan yang membuat mereka berinteraksi secara online ini yaitu (1) dorongan yang berhubungan dengan diri sendiri dan (2) dorongan yang berhubungan dengan sosial.

Berakar dari teori psikolog Amerika, Carl Roger tentang “real self”, McKenna. Dan Bargh mendalilkan bahwa dorongan yang berhubungan dengan diri sendiri itu berangkat dari keinginan dasar dalam diri manusia untuk berinteraksi sosial.

Berdasarkan penelitian Roger pada tahun 1951, untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya, seseorang harus bisa mengekspresikan diri mereka dalam masyarakat, tak peduli platformnya secara online atau bertatap langsung.

Interaksi sosial

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh 3 peneliti. Dan profesor psikologi, Yair Amichai-Hamburger, Galit Wainapel. Dan Shaul Fox (CyberPsychology & Behavior — On The Internet, No One Knows I’m an Introvert: Extroversion, Neuroticism, and Internet Interaction, 2002).

Sebanyak 40 partisipan direkrut untuk melakukan uji apakah karakter personal dari seseorang itu berpengaruh pada makna. Dan pentingnya interaksi sosial di internet ketimbang interaksi secara langsung, bertatap muka.

Hasilnya, partisipan dengan kecenderungan kepribadian introver menemukan “diri” mereka yang sebenarnya lewat interaksi online, sementara para ekstrover menemukan “diri” mereka yang sebenarnya melalui interaksi sosial tradisional (bertatap muka).

Dengan demikian, introver yang juga merupakan manusia biasa, tetap terikat dengan kecenderungan untuk bersosial. Dan karena sifat mereka, media sosial merupakan tempat yang sangat cocok untuk mereka.

Lagi-lagi, ini menjadi “senjata” baru bagi mereka. Dengan berinteraksi secara online, para introver bisa belajar berkomunikasi, bertukar pikiran, berbagi perspektif dengan orang lain. Ini adalah perubahan yang sangat signifikan. Sebelumnya, apa yang ada di pikiran mereka adalah hasil simpulan mereka terhadap suatu isu yang mereka temukan sendiri.

Dengan media sosial, mereka jadi bisa melihat simpulan orang lain dari sudut pandang yang bisa jadi sangat berbeda dengan mereka. Di sini, mereka diuji, apakah mereka bisa membatalkan kepercayaan mereka terhadap suatu hal ketika dihadapkan dengan fakta baru atau sebaliknya, bertahan dengan pemikiran mereka.